Wednesday, November 13, 2013

Cara Membuat Udang Goreng Saus Mayonaise



Penyajian udang sebagai menu makanan banyak dibuat dengan cara digoreng. Menyiapkan menu udang dengan cara di goreng juga mempunyai banyak jenis dalam penyajian. Untuk kali ini kita akan menyajikan menu udang goreng dengan menggunakan saus mayonaise.


Bahan
 12 ekor (500 gram) udang yang sudah dibersihkan
 2 sendok makan tepung kanji
 Mayonaise secukupnya
 Minyak goreng secukupnya

Bahan Saus
 3 sendok makan saus tomat
 2 sendok makan saus sambal
 1 sendok makan kecap asin
 50 cc air
 1 sendok teh gula pasir

Bumbu
 1 butir telur, kocok lepas
 2 sendok makan saus tiram
 1 sendok teh merica bubuk
 ½ sendok teh garam

Cara Membuat
 Campur semua bumbu, aduk sampai rata.
 Rendam udang dalam bumbu selama 10 menit.
 Lumuri satu per satu udang dengan tepung kanji.
 Udang digoreng dalam minyak goreng yang cukup menggunakan api kecil sampai matang
 Lalu udang di angkat.
 Campur semua bahan saus di atas api kecil, lalu masukkan udang goreng lalu di aduk rata, tunggu sampai       saus kering dan melekat pada udang kemudian di angkat.
 Sajikan udang pada piring saji, bubuhkan mayonaise di atasnya.

Itulah tips cara membuat udang goreng saus mayonaise semoga tulisan ini bermfaat. Selamat mencoba dan selamat menikmati. Dapatkan info menarik lainnya hanya di rianisyahriani01.blogspot.com

Cara Tips Mengolah Udang



Udang merupakan salah satu jenis bahan lauk yang lezat dan gurih dan dapat disajikan menjadi hidangan apa saja. Makan akan menjadi lezat dan gurih apabila diolah dengan baik. Kejelian untuk memilih udang yang berkualitas memang sangat di perlukan dan diperlukan juga teknik dalam membersihakan udang. Namun yang tidak kalah penting dalam yang perlu diketahui adalah cara mengolahnya. Untuk memilih udang berkulit haruslah kulit dan kepala tidak rusak dan masih utuh. Udang tidak berbau amis dan basuk, tekstur juga tidak lunak.


Mengupas
Untuk mengupas udang secara benar adalah melepaskan kepala udang, menggunting kulit udang bagian punggung sampai ke ekor. Sementara itu untuk udang kupas, harus berwarna jernih dan tidak berbau busuk. Agar memasak udang dengan baik maka dipastikan tekstur udang tidak menjadi keras dan rasanya manis serta pastikan untuk tidak memasaknya dalam waktu yang lama.

Kaldu Udang
Udang dapat pula dibikin menjadi kaldu. Kuah ini sangatlah gurih dan bisa digunakan untuk di jadikan berbagai jenis kaldu makanan. Cara membuatnya diawali dengan mengsangrai kulit dan kepala udang hingga berubah warna, lalu tuangkan air dan masak hingga airnya berkurang.

Membakar
Mengolah udang dengan cara dibakar juga cukup praktis, letakkan udang di atas alas pemotong dengan kaki udang menghadap keluar. Belah udang diantara dua sisi kaki sampai menyentuh kulit dengan menggunakan pisau yang tajam. Buka udang sampai rata dan cuci dengan menggunakan air mengalir. Beri bumbu dan panggang selama 4-5 menit. Oleskan bumbu selagi memanggang agar tidak ada pinggiran yang gosong.

Udang Rebus
Bagi yang tidak ingin menikmati olahan udang yang berminyak, bisa mengolah udang dengan cara diebus yang rasanya tidak kalah enak. Didihkan air, masukkan udang dan godok sampai 4 menit. Jangan tunggu sampai air mendidih lagi. Dengan demikian kulit udang tidak menempel pada daging udang.

Goreng Garing
Mengolah udang dengan cara goreng juga mantap dijadikan teman makan, sehingga banyak yang menyajikan lauk ini dalam bentuk goreng. Sebelum menggoreng pastikan agar udang tidak beku dan bisa mengeringkan udang denga lap dan lebih praktis dengan kertas tissue. Gunakan ¼ sendok teh zaitun dan bumbu sesuai selera. Goreng selam 3-5 menit dan ditambahkan dengan minyak sayur dengan minyak tidak terlalu panas sampai berwarna coklat keemasan.

Demikian tulisan tentang Cara Tips Mengolah Udang, semoga bermanfaat untuk kita semua. Dapatkan info menarik lainnya hanya di rianisyahriani01.blogspot.com

Tuesday, November 12, 2013

Cara Tips Wanita Tampil Menarik Sepanjang Usia



Setiap wanita pasti mendambakaan untuk selalu tampil menarik dihadapan publik. Bahkan tidak sedikit yang merogoh uang banyak untuk membiayai agar setiap penampilannya terlihat cantik dan menarik. Padahal tidak disadari bahwa ada cara yang dapat dilakukan untuk tetap tampil menarik seiring dengan bertambahnya usia Anda. Kiat yang dapat dilakukan guna tetap menjaga penampilan menarik sepanjang usia dengan cara menjaga penampilan yang sehat.



Menjaga tubuh agar tetap bugar dan sehat merupakan sebuah investasi besar sekaligus penghargaan terhadap diri sendiri dengan apa yang didapatkan dan bukan sekedar apa yang dibutuhkan.

Kunci utama untuk tampil menarik bahkan terlihat hebat sebenarnya adalah keyakinan bahwa kecantikan dapat dicapai pada usia berapupun dan penampilan awet muda bukanlah satu-satunya faktor untuk merasa cantik. Krim anti penuaan sejatinya memang tidak dapat mengembalikan waktu atau menutupi penampilan disetiap saat. Make up ataupun tata rias tidak dapat diandalkan sepenuhnya untuk membuat penampilan wajah terlihat muda.

Para psikologi menyepakati bahwa panutan sangat dibutuhkan dalam pembentukan pemahaman wanita tentang kecantikan. Menanamkan keyakinan bahwa kecantikan wanita tidak dibatasi oleh usia muda atau profesi yang dijalani oleh wanita, maka dibutuhkan panutan yang merupakan bukti nyata dan hidup.

Beberapa ahli memperkirakan bahwa dengan keyakinan tersebut sebagian besar penyakit yang berkaitan dengan usia tua dapat dihindari, tetapi sebenarnya sebagian besar pula disebabkan oleh nutrisi yang buruk dan olahraga yang kurang. Di usia muda, dewasa, separuh umur atau tua sekalipun selalu memiliki kecantikannya tersendiri, yang mempunyai kebahagian, kesendirian atau kepedihan.

Jadilah lebih cantik dan tampil menarik dalam usia anda. Yang paling penting jangan malu dengan usia anda. Usia muda bukanlah hadiah hebat, tetapi penuaan juga tidak perlu ditangisi. Semakin tua diri, maka akan semakin mudah menyingkirkan berbagai pemikirian mengenai hal-hal sepele dan negatif. Dengan demikian anda pun akan menjadi wanita yang selalu di idamkan.

Demikian cara sederhana yang dapat dilakukan oleh para wanita agar selalu terlihat tampil menarik. Semoga tulisan tentang cara wanita tampil menarik sepanjang usia ini dapat bermanfaat. Buat para wanita, selamat mencoba. Dapatkan info menarik lainnya hanya di rianisyahriani01.blogspot.com

Sunday, November 10, 2013

Cara Penulisan Makalah Pengembangan Kelembagaan



I. PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

Berbagai kejadian bencana yang terjadi di Indonesia dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir telah memporakporandakan berbagai aspek kehidupan Masyarakat. Perekonomian, infrastruktur, kehidupan komunitas, kelompok dan keluarga, kesehatan, pendidikan adalah aspek-aspek yang paling besar mengalami kerugian akibat bencana. Dimulai dari bencana tsunami yang sangat besar pada tahun 2004 di Aceh dan Nias, tsunami di Pangandaran, gempa di Yogyakarta, banjir di banyak daerah di pulau Jawa termasuk Jakarta dan berbagai bencana skala besar, menengah dan kecil lainnya. Semua bencana membawa dampak negatif dan bersifat destruktif. Kerugian yang mudah terlihat adalah korban jiwa (meninggal atau sakit), hancur dan musnahnya gedung-gedung sekolah, perkantoran, jembatan, rumah-rumah penduduk dan bangunan lainnya serta rusak dan musnahnya harta benda. Kerugian dan lumpuhnya perekonomian merupakan dampak negatif yang disebabkan secara langsung dan tidak langsung oleh kerugian-kerugian di bidang lainnya. Kerugian setiap aspek saling berkaitan dengan aspek lainnya, misalnya kerusakan gedung-gedung sekolah menyebabkan terhambatnya proses pendidikan masyarakat.
Bencana seringkali didefinisikan sebagai ‘suatu kejadian yang tidak dapat diprediksi sebelumnya, tidak dapat diantisipasi, datang tiba-tiba dan bersifat sangat merusak”. Untuk beberapa jenis bencana, seperti tsunami dan gempa, definisi tersebut mungkin tepat karena tidak ada satupun ahli atau lembaga di dunia ini yang dapat mencegah terjadinya bencana. Namun untuk bencana banjir, tanah longsor dan kebakaran mungkin tidak dapat selalu menggunakan definisi tersebut. Banyak ahli mengatakan bahwa bencana banjir yang semakin sering terjadi disebabkan oleh pemanasan global (global warming) sebagai akibat perilaku manusia yang tidak peduli, tidak bertanggung jawab dan tidak bersahabat lingkungannya. Kebakaran hutan di negara-negara yang mempunyai hutan-hutan tropis, efek rumah kaca dan penggunaan bahan-bahan kimia yang merusak lapisan ozon dituding menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya pemanasan global. Bencana tanah longsor dikatakan sebagai sebab karena penggundulan hutan secara besar-besaran.
Perilaku manusia yang cenderung merusak dan mengakibatkan bencana tersebut kemudian dipandang sebagai akibat dari melemahnya bahkan punahnya nilai-nilai dan norma-norma kelembagaan sosial yang semula dimiliki oleh kelompok-kelompok masyarakat tradisional. Sebaliknya, kemajuan pembangunan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibanggakan sebagai modernisasi ternyata menjadi salah satu penyebab lemah dan rusaknya nilai-nilai dan norma-norma kehidupan masyarakat, termasuk kelembagaan sosial. Bila dicermati, kedua hal tersebut ternyata saling berkaitan dan menyebabkan terjadinya lingkaran bencana. Bukan saja bencana alam tetapi juga bencana sosial. Pada bagian selanjutnya, penulis akan mencoba menggambarkan pentingnya memelihara nilai-nilai kelembagaan sosial sebagai modal untuk memelihara dan mengembangkan lingkungan, kebijakan Pemerintah dalam menanggulangi bencana dan menghidupkan kembali kelembagaan sosial untuk menanggulangi berbagai masalah bencana yang terjadi.

b. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari pemaparan diatas, maka dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kelembagaan lokal?
2. Bagaimana alternatif konsep kelembagaan untuk penajaman operasionalisasi dalam penelitian sosiologi ?

II. PEMBAHASAN

Pengembangan Kelembagaan Lokal : Suatu Dokumen Analisis dengan Kasus-kasus (Local Institutional Development : An Analytical Sourcebook with Cases)

Wilayah aktivitas pengembangan kelembagaan lokal di pedesaan memiliki sifat multi jaringan atau hubungan. Pengembangan di bidang (lembaga) sumber daya manusia akan berkaitan dengan lembaga keuangan, lembaga teknologi, lembaga pertanian dan sebagainya. Pengembangan kelembagaan juga berkaitan dengan kegiatan dan pengambilan keputusan pada berbagai tingkatan. Yang disebut tingkatan lokal adalah pada tingkat kelompok (group level), tingkat komunitas dan tingkat kerjasama komunitas dalam suatu wilayah (misalnya pasar tradisional). Beberapa faktor penting dan manfaat dari pengembangan kelembagaan lokal adalah :

  1. Pengembangan kelembagaan lokal mendukung terciptanya manajemen sumber daya alam, antara lain : pengelolaan hutan, pengairan/irigasi dan pemeliharaan sumber-sumber air.
  2. Pengembangan kelembagaan lokal untuk pembangunan infrastruktur di perdesaan, misalnya dalam transportasi, penyediaan air dan komunikasi.
  3. Pengembangan kelembagaan lokal untuk pelayanan kesehatan primer.
  4. Pengembangan lokal untuk pertanian.
  5. Pengembangan lokal untuk perusahaan non pertanian.
Banyak pengalaman proyek-proyek Bank Dunia yang mengalami kegagalan dalam upaya pemanfaatan sumber daya alam, pembangunan infrastruktur, pelayanan kesehatan, pertanian dan usaha non pertanian bukan karena manajer atau pemimpin dan tenaga-tenaga pelaksana proyek yang kurang ahli tetapi karena proyek-proyek tersebut tidak mengakomodir nilai-nilai budaya dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat di wilayah proyek dan tidak menggunakan kekuatan maupun partisipasi dari kelembagaan lokal yang sudah ada. Belajar dari kegagalan yang terjadi maka perlu diketahui strategi yang dibutuhkan dalam pengembangan kelembagaan lokal. Strategi tersebut adalah :

  1. Cara-cara memberi dukungan, melalui Promosi, Fasilitasi, Pendampingan dan pendekatan dan proses pembelajaran.
  2. Pengembangan kapasitas sumber daya manusia, melalui pendekatan-pendekatan pelatihan yang menggunakan cara-cara baru dan pengembangan kepemimpinan.
  3. Penguatan kapasitas kelembagaan dengan cara bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang mapan, pendekatan katalis dan bekerja sama dengan organisasi alternatif.
  4. Pembentukan jaringan kelembagaan dan pemberian dukungan dasar.
  5. Penataan kembali tingkatan kelembagaan yang berorientasi kepada tingkatan nasional secara legal, menggunakan strategi desentralisasi dan penataan orientasi birokrasi ke arah yang berpihak kepada masyarakat.
  6. Menggunakan metode-metode mobilisasi sumber-sumber lokal untuk menghimpun partisipasi masyarakat atau individu-individu yang memiliki kekuatan maupun campuran keduanya, pengelolaan pajak, pendapatan dari dari pengguna barang atau penerima pelayanan, bantuan bergulir dan tabungan, penerimaan dari sumber-sumber produktif, pengumpulan iuran atau pendapatan dari sektor barang dan jasa serta kontribusi dari tenaga kerja.
  7. Metoda-metoda manajemen sumber daya lokal, yaitu penataan administrasi keuangan dan pengawasan.
  8. Pemeliharaan peralatan dan fasilitas (sarana dan prasarana).
  9. Menghubungkan atau membuat jaringan dengan sumber-sumber di wilayah yang lebih luas dengan memobilisasi sumber-sumber lokal, yaitu dengan cara mengkontribusikan sebagian pendapatan pajak di tingkat lokal untuk biaya pembangunan yang didukung dari wilayah atau pemerintahan di atasnya, pemberian bantuan dari pemerintahan yang lebih luas kepada masyarakat di tingkat lokal, kontribusi dalam bentuk barang, pembagian tanggung jawab, prosedur yang sistematis dan disepakati oleh semua pihak serta masukan-masukan (bantuan) dari pihak luar.
  10. Kontribusi atau bantuan dari pihak donor.
Alternatif Konsep Kelembagaan untuk Penajaman Operasionalisasi dalam Penelitian Sosiologi

Syahyuti mengemukakan beberapa pandangan mengenai definisi ‘lembaga’ sebagai organisasi dan lembaga sebagai institusi serta definisi ‘kelembagaan’ (institusi) yang dikemukakan oleh para ahli. Syahyuti sendiri menyatakan bahwa terdapat empat cara untuk membedakannya, yaitu : 1) bahwa kelembagaan cenderung tradisional sedangkan organisasi cenderung modern, 2) kelembagaan berasal dari masyarakat itu sendiri sedangkan organisasi datang dari atas, 3) kelembagaan dan organisasi berada dalam satu kontinuum di mana organisasi adalah kelembagaan yang belum melembaga dan 4) organisasi merupakan bagian dari kelembagaan. Kelembagaan (institusi) memberi tekanan pada lima hal, yaitu : 1) berkenaan dengan aspek sosial, 2) berkaitan dengan hal-hal yang abstrak yang menentukan perilaku individu dalam sistem sosial, 3) berkaitan dengan perilaku atau seperangkat tata kelakuan atau cara bertindak yang mantap dan sudah berjalan lama dalam kehidupan masyarakat, 4) ditekankan pada pola perilaku yang disetujui dan memiliki sanksi dalam kehidupan masyarakat dan 5) pemaksanaan kelembagaan diarahkan pada cara-cara yang baku untuk memecahkan masalah yang terjadi dalam sistem sosial tertentu. Rumusan operasional kelembagaan mungkin akan lebih mudah digambarkan dengan contoh bahwa apabila perangkat komputer dianalogkan sebagai organisasi maka software yang dapat menggerakkan komputer agar bisa digunakan adalah kelembagaan. Contoh lain : apabila tubuh manusia dianalogkan sebagai suatu organisasi maka mekanisme aliran darah atau sirkulasi darah atau mekanisme pencernaan adalah kelembagaannya.

Kerangka Teoritis mengenai Kelembagaan dan Pengembangan Kelembagaan

Mencermati beberapa definisi dan gambaran mengenai kelembagaan dan pengembangan kelembagaan menurut para ahli sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu, penyusun merumuskan ‘kelembagaan’ sebagai hubungan kerja yang sistematis, teratur dan saling mendukung di antara beberapa lembaga, baik sejenis maupun tidak sejenis dan terikat dengan seperangkat nilai-nilai dan norma-norma yang disepakati bersama dalam rangka mencapai satu atau lebih tujuan yang menguntungkan semua pihak yang ada di dalam kelembagaan itu sendiri dan keuntungan bagi pihak-pihak di luar kelembagaan tersebut. Pemahaman penyusun mengenai ‘pengembangan kelembagaan’ adalah seperangkat metoda, strategi dan cara untuk memulihkan, memperbaiki dan meningkatkan sinkronisasi hubungan kerja dalam kelembagaan sehingga meningkat prestasinya.

Analisis Terhadap Pengembangan Kelembagaan Dalam Upaya Penanggulangan Bencana

Membaca tulisan Lexy Armanjaya mengenai ‘Manajemen Bencana ala Sleman’ yang dimuat dalam korba Tempo (15 Maret 2007), penyusun melihat bahwa Lexy memahami bahwa berbagai kejadian bencana yang terjadi di Indonesia banyak yang disebabkan oleh rusaknya tatanan kelembagaan-kelembagaan yang sudah ada sejak dulu dalam masyarakat. Walaupun tidak secara tersurat, Lexi menggambarkan bahwa perusakan hutan terjadi karena kelembagaan dalam masyarakat yang semula sangat menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan hidup telah terkontaminasi oleh faktor ekonomi yang menggiurkan yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga yang tingkat persaingannya sangat tinggi untuk melakukan monopoli dan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan penebangan-penebangan hutan secara liar tanpa dilakukan reboisasi. Penyusun sependapat dengan Lexy. Berbagai kejadian bencana yang terjadi seperti gunung meletus, tsunami dan gempa adalah jenis-jenis bencana yang terjadi bukan karena ulah manusia tetapi meningkatkan kapasitas dan kinerja kelembagaan dalam mengantisipasi dan menanggulanginya akan dapat meminimalisir kerugian yang timbul akibat bencana tersebut.
Terlepas dari nuansa dan pemahaman religius mengenai ‘bencana sebagai akibat kemurkaan Tuhan terhadap kesalahan manusia’, setiap umat manusia selayaknya berusaha mencari berbagai cara untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya, termasuk masalah yang timbul akibat bencana. Kelembagaan tidak hanya berfungsi untuk menangani dampak bencana tetapi juga untuk mencegah terjadinya bencana. Beberapa jenis bencana bahkan terjadi karena banyak kelembagaan yang sudah tidak berfungsi lagi dalam masyarakat. Penebangan liar atau pembangunan permukiman di daerah bantaran sungai yang kemudian menyebabkan erosi dan banjir merupakan salah satu bukti bahwa kelembagaan yang mengatur tata ruang permukiman, infrastruktur wilayah dan kesejahteraan masyarakat tidak lagi berfungsi untuk mencapai tujuan keuntungan semua pihak.
Kebijakan pembangunan yang ditetapkan pemerintah cenderung mengarahkan masyarakat untuk bersaing dalam sektor perekonomian. Pemerintah selalu memotivasi masyarakat untuk mendapatkan keuntungan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Berbagai jenis bibit tanaman umur pendek dikembangkan dan diberikan kepada masyarakat. Akibatnya, banyak hutan yang seharusnya menjadi daerah cadangan air berubah menjadi lahan tanaman palawija. Masyarakat memang mendapat keuntungan dari berbagai jenis tanaman umur pendek tetapi lahan tersebut berubah menjadi lahan kritis yang diibaratkan seperti bom waktu yang akan tiba saatnya longsor dan mungkin menjadi bencana bagi penduduk di sekitarnya. Di sisi lain, pemerintah juga selama ini lebih berpihak kepada kelompok-kelompok tertentu yang memiliki modal besar. Pembangunan ribuan villa di kawasan puncak tidak saja sekedar mencari keuntungan yang sebesar-besarnya tetapi sudah menjadi ajang persaingan prestise di antara pengembang dan kelompok masyarakat kaya. Kelembagaan yang ada di kawasan puncak tidak berdaya untuk menentang kebijakan pemerintah sehingga pada akhirnya masyarakat hanya menjadi penonton kemewahan yang terjadi di hadapannya, tinggal di rumah-rumah sederhana yang terjepit di antara bangunan-bangunan megah dan pada saat terjadi bencana, masyarakat miskin jugalah yang terkena naas dan paling banyak menjadi korban. Sudah pernah terjadi bencana di kawasan puncak dan sudah diketahui penyebabnya tetapi nampaknya Kebijakan, Undang-undang dan Peraturan yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah masih belum dapat menghalau perilaku negatif kelompok kaya dari lingkungan masyarakat miskin dan belum memberi peluang kepada kelembagaan dalam masyarakat untuk menyampaikan penolakannya.
Penyusun menilai bahwa kebijakan yang ditetapkan dan langkah-langkah yang diambil oleh Pemerintah Kabupaten Sleman tidak saja dijiwai oleh Undang-undang Pemerintahan Daerah yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada Daerah untuk menyiapkan dan memberikan yang terbaik bagi daerahnya tetapi mungkin juga berangkat dari rasa prihatin Pemerintah terhadap kehidupan warganya, atau karena sudah pernah terjadi ‘masa-masa penantian’ akan meletusnya gunung Merapi sehingga kehadiran Presiden di lokasi penampungan pengungsi menjadi suatu ‘nota persetujuan’ tidak tertulis yang tidak mungkin ditolak oleh DPRD dan Panitia Anggaran untuk mengalokasikan dana kesiapsiagaan ?. Apabila penyusun boleh memberi pertanyaan skeptis, apakah semua persiapan yang dilakukan oleh Pemerintah Sleman memang bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam rangka meminimalisir kerugian akibat bencana yang akan terjadi atau ada ‘tujuan keuntungan lain’ di baliknya ?. Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa semenjak tsunami di Aceh pada tahun 2004, segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana adalah ‘komoditi’ proyek yang tidak pernah dapat dibantah atau ditolak oleh pihak manapun, termasuk DPRD dan Tim Anggaran. Gunung Merapi selama dinyatakan masih aktif pasti akan meletus, entah besok, lusa atau bertahun-tahun yang akan datang. Kawasan di sekitar gunung Merapi pasti akan terkena dampak dan mengalami kerugian apabila gunung tersebut meletus. Apakah tidak sebaiknya Pemerintah Sleman mulai menyadarkan masyarakatnya untuk tinggal di daerah-daerah yang lebih aman, jauh dari jangkauan letusan gunung Merapi ?. Letusan gunung Merapi adalah jenis bencana yang tidak pernah bisa diprediksi secara tepat dan seberapa besar tingkat kerugian yang akan ditimbulkannya. Sudah terjadi beberapa waktu yang lalu, pada saat status Merapi dinyatakan ‘Awas’, ‘Waspada’ dan ‘Siaga’, hampir sebagian besar anggaran negara terserap untuk evakuasi warga, pemberian bantuan bagi penduduk yang ‘dipaksa’ mengungsi, ‘disaster tour (wisata bencana)’ oleh para pejabat negara dan pihak-pihak tertentu, pengadaan bantuan yang menguntungkan para pengusaha dan kegiatan-kegiatan lainnya dengan dalih kesiapsiagaan. Tetapi yang terjadi kemudian, semua hiruk pikuk kesiapsiagaan tersebut seperti hilang ditelan berita lain yang lebih aktual karena ternyata Merapi belum juga meletus dan kita tidak pernah tahu kapan akan meletus. Apabila Pemerintah Sleman telah merintis untuk mengembangkan kelembagaan di daerahnya sebagai salah satu upaya penanggulangan bencana, apakah ada yang dapat menjamin bahwa kebijakan tersebut tidak akan berubah pada periode pemerintahan berikutnya ?. Pasca otonomi daerah, banyak sekali peraturan daerah yang ditetapkan, dibatalkan atau diperbaharui. Peraturan Daerah mengenai kesiapsiagaan penanggulangan bencana di Sleman suatu saat bisa saja diperbaharui dengan peraturan yang tidak terlalu berpihak pada kelembagaan.
Penyusun menilai bahwa Undang-undang Penanggulangan Bencana yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah masih belum seimbang untuk menangani berbagai kejadian bencana yang sudah maupun yang mungkin akan terjadi di Indonesia. Pemerintah masih terpaku ingatannya terhadap kerugian akibat bencana yang terjadi, utamanya korban jiwa yang sangat besar jumlahnya pada bencana di Aceh, Nias, Yogyakarta dan beberapa daerah lainnya. Dalam Undang-undang tersebut, Pemerintah masih menitikberatkan upaya penanggulangan dan minimalisasi kerugian (harta benda dan korban jiwa) dan belum memberikan cukup perhatian untuk bencana-bencana yang timbul akibat ulah manusia. Bagian-bagian yang menyatakan mengenai kelembagaan, penghargaan terhadap budaya lokal, kearifan lokal dan proses penyadaran masyarakat hanya disebutkan sepintas. Undang-undang tersebut lebih banyak memberi ruang bagi pembentukan lembaga baru (dengan sejumlah jabatan baru) untuk menanggulangi bencana, penyediaan barang (alat evakuasi dan bantuan) untuk digunakan dalam menangani korban bencana dan hanya memberi ‘peringatan’ yang sepintas pula bagi pengusaha yang menyebabkan kerawanan atau terjadinya bencana. Sekalipun ada pasal-pasal khusus yang memuat mengenai sanksi bagi pihak yang menyebabkan terjadinya bencana, apakah sanksi tersebut dapat menghapuskan kedukaan yang dialami masyarakat akibat kehilangan anggota keluarganya?. Apakah tidak lebih baik apabila Pemerintah lebih menekankan agar pembangunan infrastruktur dilakukan seimbang dengan jumlah penduduk dan tata ruang wilayah?. Sebagai contoh, apakah kota Jakarta masih memerlukan pembangunan gedung-gedung perbelanjaan yang baru dengan jumlah dan kepadatan penduduknya saat ini?.
Bagaimanapun juga, penyusun mengakui bahwa Undang-undang Penanggulangan Bencana sudah memberikan ‘payung kecil’ untuk pengembangan kelembagaan di Indonesia dalam rangka penanggulangan bencana. Tetapi Indonesia memerlukan ‘payung yang lebih besar’ untuk pengembangan kelembagaan. Pengembangan kelembagaan bukan hanya perlu dilakukan dan ditingkatkan untuk menanggulangi suatu masalah tetapi pengembangan kelembagaan perlu dilakukan untuk mencegah dan menghindari terjadinya masalah. Gunung Merapi memang pasti akan meletus tetapi tidak setiap hari atau setiap tahun. Banjir di Jakarta terjadi setiap tahun dan ‘pasti’ akan terjadi lagi tahun yang akan datang. Undang-undang Penanggulangan Bencana sudah memberikan peluang untuk pengembangan kelembagaan dalam rangka menanggulangi dampak yang akan terjadi tetapi Undang-undang tersebut belum sepenuh hati untuk memberi tempat bagi kelembagaan untuk mencegah, menolak dan menghindari bencana itu di tahun-tahun yang akan datang. Sudah pernah terjadi tsunami di Nusa Tenggara Timur pada tahun 1992 dan tidak ada yang akan bisa mengetahui kapan bencana itu akan terjadi lagi, semoga tidak akan pernah lagi, tetapi bencana banjir sungai Benenai di Kabupaten Belu akan terus berlangsung seumur hidup bumi ini selama Masyarakat masih tinggal di daerah pesisir yang datarannya sama tinggi dengan permukaan air laut, oleh karena itu Pemerintah sebaiknya berupaya agar kelembagaan yang ada di dalam masyarakat Kabupaten Belu berperan aktif dan dominan untuk menyadarkan masyarakat agar memilih tinggal di daerah yang relatif lebih aman. Penyusun berharap agar langkah-langkah bijaksana yang sudah ditempuh oleh Pemerintah Kabupaten Sleman tidak hanya diikuti oleh Pemerintah Daerah lainnya maupun Pemerintah Pusat tetapi kemudian dikaji lebih mendalam dan dikembangkan lebih luas untuk tujuan murni pengembangan kelembagaan yang membawa pengaruh baik dan memberi keuntungan untuk semua pihak.
e. Rencana Pengembangan Kelembagaan dan Kemitraan
Pengembangan SDM pengelola KRK nantinya tidak terlepas dari bentuk kelembagaan dan kemitraan yang akan dikembangkan dalam pembangunan dan pengembangan KRK. Pembangunan KRK pada tahap awal menjadi titik tolak keberhasilannya di masa datang. Pembangunan fisik harus dibarengi dengan non fisiko Dua hal utama sebagai landasan pikir dalam mewujudkan KRK, yaitu : (1) implikasi pergeseran paradigma pengelolaan kebun raya yang tidak lagi semata science oriented namun juga customer oriented, mengisyaratkan pembangunan fisik KRK harus dibarengi dengan pembangunan non fisik, dan (2) perubahan¬perubahan besar di tingkat lokal, nasional dan global yang mempengaruhi orientasi daerah dalam mengelola pemerintahan menjadi entrepreneuriaL-competitive government yaitu melayani masyarakat dan jeli melihat peluang-peluang. Kedua hal tersebut selayaknya harus tercermin dalam pengembangan dan penyelenggaraan pengelolaan KRK.
Untuk itu Pemerintah Daerah Kuningan disarankan menempatkan pembentukan unit pengelola KRK yang menangani pembangunan dan pengembangan KRK sebagai langkah pembangunan non fisik prioritas pad a 2 (dua) tahun pertama. Landasan yang digunakan dalam pengembangan kelembagaan adalah konsep keterkaitan antar pemangku kepentingan sebagai pelaku-pelaku dari suatu pengembangan KRK yang berkelanjutan, namun tetap dalam koridor peraturan-peraturan yang berlaku dalam pembangunan dan pengembangan KRK. Pada tahun ke 3 (tiga), diharapkan Dinas Kehutanan dan Perkebunan telah dapat mengalihkan tanggungjawab pembangunan KRK kepada unit pengelola tersebut dalam mengembangkan dan menyelenggarakan fungsi KRK. Stuktur unit pengelola KRK sebaiknya dinamis, disesuaikan dengan kondisi KRK dan tahapan pembangunannya.
Unit pengelola KRK yang menangani pembangunan dan pengembangan KRK harus mempunyai kewenangan jelas dan mampu menjalankan kerjasama dengan masyarakat dan atau pelaku pasar dalam suatu mekanisme yang disepakati bersama. Oleh karena itu otoritas unit tersebut dapat dibarengi dengan kewenangan dalam pengadaan dan penyelenggaraan anggaran untuk kemandirian pengelolaan KRK di masa mendatang.
Unit khusus pembangunan dan pengembangan KRK bertanggung jawab langsung kepada Bupati Kuningan dengan tugas dan kewenangan utama mengorganisasikan dan merencanakan seluruh pembangunan dan pengembangan KRK. Implikasi dari bentuk kelembagaan ini adalah tuntutan profesionalitas yang tinggi dari individu-individu di dalam struktur unit tersebut .
Penerapan hubungan kerjasama dengan masyarakat diwujudkan melalui:

  1. Pembentukan Dewan Pengawas Pengembangan KRK yang terdiri dari unsur-unsur pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi dan pelaku pasar ;
  2. Pengalihan sebagian kegiatan-kegiatan usaha pembangunan dan pengembangan pelayanan, utamanya untuk wisata, kepada masyarakat dan atau pelaku pasar sebagai satu usaha pengelola KRK dalam memberikan kesempatan berusaha dan penciptaan lapangan kerja .
  3. Pengalihan kegiatan-kegiatan usaha kepada masyarakat dapat dalam bentuk, antara lain: pengelolaan sarana dan prasarana akomodasi dan restaurant, pengadaan bahan makanan, pengadaan cinderamata, penyediaan jasa interpretasi, pelayanan keselamatan dan keamanan, dan lain-lainnya. Skema perolehan keuntungan sesuai dengan kesepakatan bersama antara pengelola KRK dan penyelenggara usaha. Jumlah tenaga kerja masyarakat yang terserap dalam pengembangan diharapkan akan meningkat dengan meningkatnya pengembangan dan kegiatan usaha serta sejalan dengan meningkatnya kompetensi masyarakat.

III. KESIMPULAN

Dari pembahasan tentang kelembagaan dan pengembangan kelembagaan dapat disimpulkan bahwa:

  1. Pengembangan kelembagaan lokal dapat dilakukan melalui pemberian dukungan, promosi, fasilitasi, pendampingan dan pembelajaran guna peningkatan kapasitas, sehingga kelembagaan lokal mampu merencanakan, melaksanakan dan melakukan pengawasan terhadap kegiatan kelembagaan ditingkat masyarakat.
  2. Kelembagaan sebagai hubungan kerja yang sistematis, teratur dan saling mendukung di antara beberapa lembaga, baik sejenis maupun tidak sejenis dan terikat dengan seperangkat nilai-nilai dan norma-norma yang disepakati bersama dalam rangka mencapai satu atau lebih tujuan yang menguntungkan semua pihak yang ada di dalam kelembagaan itu sendiri dan keuntungan bagi pihak-pihak di luar kelembagaan tersebut. Pengembangan kelembagaan adalah seperangkat metoda, strategi dan cara untuk memulihkan, memperbaiki dan meningkatkan sinkronisasi hubungan kerja dalam kelembagaan sehingga meningkat prestasinya.
Demikian tulisan tentang Cara Penulisan Makalah Pengembangan Kelembagaan, semoga bermanfaat untuk kita semua. Dapatkan info menarik lainnya hanya di rianisyahriani01.blogspot.com

Friday, November 8, 2013

Contoh Laporan Akhir Pelaksanaan Proyek

KATA PENGANTAR

Bismillahi Rahmani Rahim
Assalamu ‘Alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh.
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah Azza Wajallah atas Rahmat, Hidayah dan Inayah-Nya sehingga pelaksanaan pekerjaan Pengerasan Paving Blok 450 Meter Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM-MPd) Tahun Anggaran 2013 Desa Pakkabba akhirnya selesai dikejakan sesuai dengan rencana kegiatan hingga sampai tahap akhir pelaksanaan kegiatan. Tidak lupa salawat dan tazlim kami kirimkan kepada revolusioner kita Nabi besar Muhammad SAW yang telah memberi kita petunjuk tentang kebenaran hidup.
Setiap tahapan pekerjaan telah kami lalui dan akhirnya terangkum kedalam laporan akhir ini yang merupakan tahapan akhir dari semua kegiatan yang terencana dan terealisasi baik secara fisik maupun biaya, juga merupakan laporan secara keseluruhan setiap tahapan kegiatan mulai dari nol pekerjaan, lima puluh persen sampai dengan pekerjaan secara total. Serta kendala dan keberhasilan yang tercapai selama berlangsungnya kegiatan terangkum dalam laporan akhir ini.
Akhirnya atas segala kerendahan hati, kami Tim Pelaksana Kegiatan PNPM-MPd Desa Pakkabba menghanturkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Desa Pakkabba, KPMD, Tokoh Masyarakat, Kelompok Perempuan, Tim Monitoring, Pekerja, terkhusus pelaku PNPM-MPd Kec. Galesong Utara serta semua pihak yang telah mendukung dan berpartisipasi hingga kegiatan pekerjaan Pengerasan Paving Blok terlaksana dan terealisasi sesuai dengan dengan rencana dan target yang diinginkan.
Semoga Allah Azza Wajallah senantiasa meridhoi segala niat baik kita dalam memajukan pembangunan dan meningkatkan sumberdaya manusia demi untuk peningktan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat.


Pakkabba, Agustus 2013


Tim Pengelola Kegiatan



BAB I
GAMBARAN UMUM PELAKSANAAN
Proses pelaksanaan pekerjaan Pengerasan Paving Blok di Dusun Parapa merupakan suatu proses yang panjang sampai akhirnya terdanai melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan. Proses tersebut melalui proses penggalian gagasan, musyawarah dusun sampai akhirnya musyawarah di tingkat desa yang kemudian terdanai pada tahun anggaran 2013.
Pada dasarnya usulan kegiatan pekerjaan Pengerasan Paving Blok tersebut muncul sebagai sebuah keresahan masyarakat ketika musim hujan datang dimana jalanan tersebut tergenang dengan air yang menimbulkan becek hampir disetiap jalan yang di lalui oleh masyarakat dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Di samping itu, apabila badan jalan dibiarkan berlangsung lama tanpa ada penahan pada pinggirannya akan menyebabkan kerusakan pada badan jalan. Hal sudah terlihat pada beberapa titik mengalami kerusakan sebagai akibat apabila tidak ada penahan jalan.
Usulan kegiatan pekerjaan Pengerasan Paving Blok yang di bangun di Dusun Parapa kurang lebih sepanjang 700 meter, namun setelah dilakukan verifikasi maka yang layak terdanai 450 meter. Hal tersebut disebabkan beberapa lokasi rencana pembangunan telah terdanai oleh program lain. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan proses pelelangan yang bertujuan untuk menentukan pemasok material pada pekerjaan tersebut dan menentukan sistem pengupahan yang akan diterapkan dalam pelaksanaan pekerjaan. Pekerjaan berlangsung sekitar 90 hari dengan sistem upah borongan yang dikerjakan oleh masyarakat setempat. Ini dimaksudkan agar pekerja dapat bertanggungjawab menjaga kualitas pekerjaan dan juga sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat lokal.
Pengawasan kegiatan dilaksanakan oleh Tim Monitoring dan seluruh elemen. Hal ini diharapkan agar dapat mengawasi kualitas pekerjaan dan mengawasi proses pekerjaan agar dapat berfungsi dengan baik sehingga pekerjaan yang dilaksankan berjalan mengikuti rencana dan desain. Dengan pengawasan tersebut maka pelaksana kegiatan melakukan pertanggungjawaban secara bertahap yaitu pada tahap 40%, 80% dan 100% pekerjaan. Pada momen tersebut juga disampaikan masalah dan kendala yang dihadapi oleh pelaksana kegiatan.
Beberapa masalah dan kendala yang dihadapi oleh pengelola kegiatan selama pekerjaan berlangsung adalah beberapa titik melebihi bestek dan ada beberapa penambahan volume dan harus dikarjakan, di samping itu dibeberapa titik pada bahu jalan harus ditimbung karena kekurangan tanah yang terseret oleh aliran air ke saluran irigasi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka dikerjakan melalui dana sisa lelang dan swadaya masyarakat.


BAB II
RENCANA PENGOPERASIAN DAN PELESTARIAN
Keberlanjutan dari sarana yang telah dibangun tentunnya akan tetap berfungsi ketika dipelihara oleh masyarakat setempat. Hal ini juga memungkinkan sarana maupun prasarana akan tetap lestari. Hal inilah yang mendasari bahwa pembangunan yang dilaksanakan pada PNPM Mandiri Perdesaan tidak hanya di atur proses perencanaan dan pelaksanaan tapi juga diatur cara pemeliharaan hasil pembangunan tidak hanya berfungsi sebagaiman peruntukan tetapi juga tetap lestari.
Untuk menfungsikan pekerjaan Pengerasan Paving Blok yang telah dibangun di Dusun Parapa maka pada pertanggungjawaban 40% pelaksanaan pekerjaan dibentuk Tim Pemelihara. Tim ini terdiri dari 3 orang yang nantinya setelah dilakukan serah terima pekerjaan kepada masyarakat akan melakukan peran dan fungsinya dalam melakukan pemeliharaan sarana. Tim ini berasal dari masyarakat yang berada pada lokasi pekerjaan dengan tujuan untuk memudahkan pemeliharaan.
Tim pemelihara yang dibentuk adalah sebagai koordinator yang akan mengarahkan masyarakat pada lokasi pekerjaan Pengerasan Paving Blok. Apabila melihat pekerjaan Pengerasan Paving Blok tidak sesuai dengan kondisi normal diharapkan dapat melakukan koordinasi dengan masyarakat untuk menemukan solusi penanganan masalah tersebut. Ketika kegiatan tersebut berjalan secara kontinyu maka hasil pembangunan akan terjaga dan lestari.


BAB III
PENUTUP
Setiap pembangunan akan berjalan dengan baik dilaksankan secara baik. Setiap kegiatan dilakukan sesuai dengan perncanaan yang matang serta terbangun komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah dan semua pihak yang terkait dengan seluruh kegiatan pembangunan.
Demikianlah seluruh tahapan pekerjaan Pengerasan Paving Blok yang secara keseluruhan terangkum kedalam Laporan Akhir yang merupakan tahap dari semua kegiatan pelaksanaan yang terencana dan terealisasi baik secara fisik dan biaya. Laporan ini juga sebagai gambaran dari setiap capaian pelaksanaan mulai dari pelaksanaan 0%, 50% dan 100% serta kemajuan dan kendala selama berlangsungnya kegiatan sampai pada rencana pengoperasian dan pelestarian dari apa yang telah dilaksanakan dapat diketahui melalui laporan ini.
Laporan ini akan menjadi gambaran secara keseluruhan apa yang telah terlaksana selama pekerjaan Pengerasan Paving Blok berlangsung. Melalui laporan ini dapat mengetahui secara tidak langsung seluruh proses kegiatan.

Demikian tulisan tentang Contoh Laporan Akhir Pelaksanaan Proyek, semoga bermanfaat untuk kita semua. Dapatkan info menarik lainnya hanya di rianisyahriani01.blogspot.com

Thursday, November 7, 2013

Contoh Laporan Pelatihan Kegiatan


LAPORAN
PELATIHAN BKAD DAN PL
T.A. 2012
A. Pendahuluan
          Segala puji bagi Allah SWT yang Maha Sempurna dan Maha Pencipta seluruh umat. Dialah yang memberi kita kesempatan dan kesehatan untuk menjalankan tugas-tugas kita sebagai mahluk yang hidup di dunia ini serta petunjuk untuk menjalankannya. Salam dan salawat juga senantiasa tercurah juga kepada Nabi Muhammad SAW, nabi junjungan kita yang membawa petunjuk atas jalan kita juga membawa kecerahan umat manusia dari alam jahiliah ke alam yang terang benderang sampai akhir masa.
         Sudah menjadi kewajiban umat manusia untuk bisa mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka lakukan, Atas dasar ini kami sebagai panitia pelatihan yang telah melaksanakan tugas walaupun belum dalam kesempurnaan mengemukakan pertanggungjawaban kami. Kami berharap ada penilaian yang objektif setelah memaparkan pertanggungjawaban Pelatihan Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) dan Pendamping Lokal (PL), baik itu pertanggungjawaban keuangan maupun kegiatan dari tugas-tugas yang telah diamanahkan kepada kami dari yang memberi amanah (UPK, BKAD, PJOK & Fasilitator) dan yang terkhusus Allah SWT.
B. Latar Belakang
         BKAD adalah lembaga lintas desa yang dibentuk secara sukarela atas dasar kesepakatan dua atau beberapa desa di satu wilayah dalam satu kecamatan dan atau antar kecamatan dengan suatu maksud dan tujuan tertentu. BKAD pada awalnya dibentuk untuk melindungi dan melestarikan hasil-hasil program yang terdiri dari kelembagaan UPK, sarana dan prasarana, hasil kegiatan bidang pendidikan, hasil kegiatan bidang kesehatan dan perguliran dana. BKAD berkembang sebagai lembaga pengelola pembangunan partisipatif, pengelola kegiatan masyarakat, pengelola aset produktif dan sumberdaya alam serta program/proyek dari pihak ketiga yang bersifat antar desa.
         Dalam hubungan dengan lembaga-lembaga bentukan PNPM Mandiri Perdesaan (UPK, BP-UPK, TV, KPMD, TPK dan lainnya) BKAD menjadi jalan keluar dari masalah statute dan payung hukum. BKAD menjelaskan tentang status kepemilikan, keterwakilan dan batas kewenangan. Dalam kaitan dengan UPK, maka fungsi BKAD adalah merumuskan, membahas dan menetapkan rencana strategis untuk pengembangan UPK dalam bidang pengelolaan dana bergulir, pelaksanaan program dan pelayanan usaha kelompok. BKAD juga berperan dalam pengawasan, pemeriksaan serta evaluasi kinerja UPK.
          Pendamping Lokal (PL) adalah tenaga pendamping dari masyarakat yang membantu FK/FT untuk memfasilitasi masyarakat dalam melaksanakan tahapan dan kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan pelestarian. Di setiap kecamatan akan ditempatkan satu orang Pendamping Lokal.
         Olehnya itu kelembagaan ini perlu diberi penguatan kepada pelaku atau SDMnya sehingga paham tentang konsepsi PNPM Mandiri Perdesaan, konsep pemberdayaan dan mampu mengembangkan lembaganya. Atas dasar tersebut, maka perlu dilaksanakan penguatan melalui pelatihan BKAD dan PL sehingga proses dan tahapan pelaksanaan kegiatan terlaksana dengan baik.

C. Tujuan
     Tujuan dari kegiatan pelaksanaan pelatihan BKAD dan PL adalah :
     1. Meningkatkan kemampuan SDM (pengetahuan dan keterampilan) pelaku
     2. Memberikan penjelasan/pemahaman dasar dan motivasi kepada pelaku dalam melaksanakan                        tupoksinya
     3. Menjadi wadah curah pendapat pelaku PNPM Mandiri Perdesaan
     4. Menyamakan persepsi terhadap aturan/regulasi dalam pelaksanaan kegiatan PNPM Mandiri                        Perdesaan
D. Sasaran
     Sasaran dari kegiatan pelatihan BKAD dan PL adalah :
     1. Pengurus BKAD Se-Kabupaten Takalar
     2. PL Se-Kabupaten Takalar
E. Waktu dan Tempat
     Pelatihan BKAD dan PL dilaksanakan selama 2 (dua) hari yaitu Kamis – Jum’at, 12 – 13 Juli 2012              bertempat di Hotel Pasanggrahan Malino.
F. Anggaran Biaya
    Adapun anggaran biaya pelatihan BKAD dan PL adalah Rp. 15.570.000 dengan perincian terlampir.
G. Undangan
     Adapun undangan adalah pengurus BKAD dan PL Se-Kabupaten Takalar, Penyampaian kapada Bapak      Bupati Takalar, Penyampaian kepada Adprop, permintaan moderator kepada fasilitator kecamatan,              tembusan dan pertinggal sebagaimana terlampir.

H. Jadwal Kegiatan dan Matriks Kurikulum
    Jadwal kegiatan dan matriks kurikulum pelatihan BKAD dan PL (terlampir)
I. Materi Pelatihan
   Materi Pelatihan BKAD dan PL (terlampir)
J. Laporan Proses Pelaksanaan Pelatihan
    Atas nama panitia, kami melaporkan situasi dan kondisi jalannya pelaksanaan pelatihan mulai dari pra           sampai pasca pelaksanaan pelatihan. Dalam laporan ini secara berturut-turut akan dilaporkan beberapa         komponen yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung yang turut mempengaruhi proses           pelaksanaan pelatihan.
1. Kondisi Peserta
    Peserta yang mengikuti pelatihan adalah pengurus BKAD sebanyak 27 orang dan PL 9 orang Se-                 Kabupaten Takalar.

2. Kondisi Narasumber dan Moderator
    Narasumber pada pelatihan BKAD dan PL T.A. 2012 terdiri dari Faskab, Fastekab dan Faskeu.                 Adapaun yang menjadi moderator sekaligus notulensi adalah FK Sanrobone, FK Polsel dan FK Galsel.       Pada saat pelaksanaan kegiatan, narasumber dan moderator hadir dan melaksanakan tupoksinya masing-     masing.
3. Kondisi Panitia
    Panitia yang dibentuk terdiri dari 3 orang, terdiri atas Ketua (UPK Galut), Sekretaris (UPK Sanrobone)
    dan Bendahara (UPK Polsel). Setelah terbentuk kepanitiaan Pelatihaan BKAD dan PL, telah melakukan       konsolidasi internal kepanitiaan dengan mempertegas tupoksi masing-masing dan selanjutnya mengadakan     evaluasi terhadap hal-hal yang dilaksanakan dalam kepanitiaan. Secara umum kerjasama kepanitiaan mulai     dari persiapan sampai pelaksanaan dan berakhirnya kegiatan pelatihan BKAD dan PL sudah berjalan           sesuai rencana, walaupun menghadapi kendala namun dapat diatasi sehingga dapat terlaksana tahapan           demi tahapan.
4. Proses Pelaksanaan
    a. Materi Pelatihan
      No                         Pokok Bahasan                                    Ket.
       1.   Bina Suasana                                                               BKAD/PL
       2.   Refleksi Penerapan Prinsip PNPM-MP
             Dalam Aktualisasi Peran Pelaku                                   BKAD/PL
       3.   Refleksi TUPOKSI BKAD dan PL                             BKAD/PL
       4.   Pola Penanganan Penganduan dan Masalah                  BKAD/PL
       5.   Pengembangan Jaringan                                                BKAD
       6.   Inovasi Fasilitasi                                                            PL
       7.   Audit Internal                                                                BKAD/PL

b. Proses Fasilitasi

c. Hasil dan Pembahasan

K. Dokumentasi
   
(Terlampir)

Demikian tulisan tentang Contoh Laporan Pelatihan Kegiatan, semoga bermanfaat untuk kita semua. Dapatkan info menarik lainnya hanya di rianisyahriani01.blogspot.com

Monday, November 4, 2013

Cara Makalah Manajemen Organisasi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
 Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalau berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil. Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati dan menghargai.
Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok dan lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik dan sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.
Dalam kenyataannya para pemimpin dapat mempengaruhi moral dan kepuasan kerja, keamanan, kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Para pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam membantu kelompok, organisasi atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka, karena pemimpin yang efektif mempunyai sifat atau kualitas tertentu yang diinginkan.
Kemampuan dan keterampilan kepemimpinan dalam pengarahan adalah faktor penting efektifitas manajer. Bila organisasi dapat mengidentifikasikan kualitas–kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan, kemampuan untuk menseleksi pemimpin-pemimpin efektif akan meningkat. Dan bila organisasi dapat mengidentifikasikan perilaku dan teknik-teknik kepemimpinan efektif, akan dicapai pengembangan efektifitas personalis dalam organisasi.
B. Tujuan
Tujuan dari penulisan ini adalah agar dapat mengetahui potensi diri serta kemampuan dalam memimpin organisasi serta mengetahui teori kepemimpinan yang patut dikembangkan dalam sebuah organisasi.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat Kepemimpinan
Dalam kehidupan sehari – hari, baik di lingkungan keluarga, organisasi, perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya. Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin, beberapa diantaranya : (1) Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan. (2) Menurut Robert Tanembaum, Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan. (3) Menurut Prof. Maccoby, Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius, dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif, kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan. (4) Menurut Lao Tzu, Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain, sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu. (5) Menurut Davis and Filley, Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin. (6) Sedangakn menurut Pancasila, Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun, dan membimbing asuhannya.
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhidan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan, kepercayaan, respek, dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas.
Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan apa yang diinginkan pihak lainnya. Ketiga kata yaitu pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan yang dijelaskan sebelumnya tersebut memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.
Setiap orang mempunyai pengaruh atas pihak lain, dengan latihan dan peningkatan pengetahuan oleh pihak maka pengaruh tersebut akan bertambah dan berkembang. Kepemimpinan membutuhkan penggunaan kemampuan secara aktif untuk mempengaruhi pihak lain dan dalam wujudkan tujuan organisasi yang telah ditetapkan lebih dahulu. Dewasa ini kebanyakan para ahli beranggapan bahwa setiap orang dapat mengembangkan bakat kepemimpinannya dalam tingkat tertentu.
Kepemimpinan adalah kekuasaan untuk mempengaruhi seseorang, baik dalam mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakan sesuatu, bawahan dipimpin dari bukan dengan jalan menyuruh atau mondorong dari belakang. Masalah yang selalu terdapat dalam membahas fungsi kepemimpinan adalah hubungan yang melembaga antara pemimpin dengan yang dipimpin menurut rules of the game yang telah disepakati bersama.
Dari batasan kepemimpinan sebagaimana telah disebutkan di atas seorang dikatakan pemimpin apabila dia mernpunyai pengikut atau bawahan. Bawahan ini dapat disuruh untuk mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakan sesuatu dalam mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
Dalam organisasi pemimpin dibagi dalam tiga tingkatan yang tergabung dalam kelompok anggota-anggota manajemen (manajement members). Ketiga tingkatan tersebut adalah :
a. Manager puncak (Top Manager)
b. Manajer menengah (Middle manager)
c. Manajer bawahan (Lower managor/suvervisor)
Di samping itu perlu dikemukakan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang dalam organisasi maka ia semakin genoralist, sedang semakin rendah kedudukan seseorang dalam organisasi maka ia menjadi spesialis.
B. Teori Kepemimpinan
Memahami teori-teori kepemimpinan sangat besar artinya untuk mengkaji sejauh mana kepemimpinan dalam suatu organisasi telah dapat dilaksanakan secara efektif serta menunjang kepada produktifitas organisasi secara keseluruhan. Beberapa teori telah dikemukakan para ahli majemen mengenai timbulnya seorang pemimpin.
1. Teori Genetie
Inti dari teori ini tersimpul dalam mengadakan "leaders are born and not made". bahwa penganut teori ini mengatakan bahwa seorang pemimpin ada karena ia telah dilahirkan dengan bakat pemimpin. Dalam keadaan bagaimana pun seorang ditempatkan pada suatu waktu ia akan menjadi pemimpin karena ia dilahirkan untuk itu. Artinya takdir telah menetapkan ia menjadi pemimpin.
2. Teori Sosial
Jika teori genetis mengatakan bahwa "leaders are born and not made", make penganut-penganut sosial mengatakan sebaliknya yaitu : "Leaders are made and not born". Penganut-penganut teori ini berpendapat bahwa setiap orang akan dapat menjadi pemimpin apabila diberi pendidikan dan kesempatan untuk itu.
3. Teori Ekologis
Teori ini merupakan penyempurnaan dari kedua teori genetis dan teori sosial. Penganut-ponganut teori ini berpendapat bahwa seseorang hanya dapat menjadi pemimpin yang baik apabila pada waktu lahirnya telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, Bakat mana kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pangalaman-pengalaman yang memungkinkannya untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang memang telah dimilikinya.
Di samping teori tersebut, dalam memimpin dan menjalankan sebuah organisasi dikenal pula beberpa teori kepimpinan antara lain :
1. Teori kepemimpinan sifat (Trait Theory)
Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The Greatma Theory”. Dalam perkembanganya, teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik, mental, dan kepribadian.
Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, antara lain : (a) Kecerdasan, (b) Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial, (c) Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi, (d) Sikap Hubungan Kemanusiaan.
2. Teori kepemimpinan perilaku dan sifat,
Berdasarkan penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki kecendrungan kearah 2 hal yaitu : (1) Pertama yang disebut dengan Konsiderasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam hal ini seperti : membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi dengan bawahan. (2) Kedua disebut Struktur Inisiasi yaitu Kecendrungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat , bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai.
3. Teori Kewibawaan Pemimpin
Kewibawaan merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.
4. Teori Kepemimpinan Situasi
Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.
5. Teori Kelompok
Agar tujuan kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dengan pengikutnya.
Dari adanya berbagai teori kepemimpinan di atas, dapat diketahui bahwa teori kepemimpinan tertentu akan sangat mempengaruhi gaya kepemimpinan (Leadership Style), yakni pemimpin yang menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan segenap filsafat, keterampilan dan sikapnya. Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpan bersikap, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu. Gaya tersebut bisa berbeda – beda atas dasar motivasi, kuasa ataupun orientasi terhadap tugas atau orang tertentu.
C. Karakter Kepemimpinan
Kepemimpinan menuntut suatu transformasi dari dalam hati dan perubahan karakter. Seorang pemimpin memiliki kerinduan untuk membangun dan mengembangkan mereka yang dipimpinnya sehingga tumbuh banyak pemimpin dalam kelompoknya. Hal ini sejalan dengan buku yang ditulis oleh John Maxwell berjudul Developing the Leaders Around You. Keberhasilan seorang pemimpin sangat tergantung dari kemampuannya untuk membangun orang – orang di sekitarnya, karena keberhasilan sebuah organisasi sangat tergantung pada potensi sumber daya manusia dalam organisasi tersebut. Jika sebuah organisasi atau masyarakat mempunyai banyak anggota dengan kualitas pemimpin, organisasi atau bangsa tersebut akan berkembang dan menjadi kuat.
Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mau mendengar. Mau mendengar setiap kebutuhan, impian, dan harapan dari mereka yang dipimpin. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang dapat mengendalikam ego dan kepentingan pribadinya melebihi kepentingan public atau mereka yang dipimpinnya. Mengendalikan ego berarti dapat mengendalikan diri ketika tekanan maupun tantangan yang dihadapi menjadi begitu berat,selalu dalam keadaan tenang, penuh pengendalian diri, dan tidak mudah emosi.
D. Metode Kepemimpinan
Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata, tapi juga harus memiliki serangkaian metode kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang efektif. Tidak banyak pemimpin yang memiliki metode kepemimpinan ini. Karena hal ini tidak pernah diajarkan di sekolah – sekolah formal. Keterampilan seperti ini disebut dengan Softskill atau Personalskill. Dalam salah satu artikel di economist.com ada sebuah ulasan berjudul Can Leadership Be Taught, dibahas bahwa kepemimpinan (dalam hal ini metode kepemimpinan) dapat diajarkan sehingga melengkapi mereka yang memiliki karakter kepemimpinan. Ada 3 hal penting dalam metode kepemimpinan, yaitu :
1. Kepemimpinan yang efektif dimulai dengan visi yang jelas. Visi ini merupakan sebuah daya atau kekuatan untuk melakukan perubahan, yang mendorong terjadinya proses ledakan kreatifitas yang dahsyat melalui integrasi maupun sinergi berbagai keahlian dari orang – orang yang ada dalam organisasi tersebut. Bahkan dikatakan bahwa nothing motivates change more powerfully than a clear vision. Visi yang jelas dapat secara dahsyat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi. Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner yaitu memiliki visi yang jelas kemana organisasinya akan menuju. Kepemimpinan secara sederhana adalah proses untuk membawa orang – orang atau organisasi yang dipimpin menuju suatu tujuan yang jelas. Ada 2 aspek mengenai visi, yaitu visionary role dan implementation role. Artinya seorang pemimpin tidak hanya dapat membangun atau menciptakan visi bagi organisasinya tapi memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan visi tersebut ke dalam suatu rangkaian tindakan atau kegiatan yang diperlukan untuk mencapai visi itu.
2. Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang yang responsive, artinya dia selalu tanggap terhadap setiap persoalan, kebutuhan, harapan, dan impian dari mereka yang dipimpin. Selain itu selalu aktif dan proaktif dalam mencari solusi dari setiap permasalahan ataupun tantangan yang dihadapi.
3. Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang pelatih atau pendamping bagi orang – orang yang dipimpinnya (performance coach). Artinya dia memiliki kemampuan untuk menginspirasi, mendorong dan memampukan anak buahnya dalam menyusun perencanaan (termasuk rencana kegiatan, target atau sasaran, rencana kebutuhan sumber daya, dsb), melakukan kegiatan sehari – hari seperti monitoring dan pengendalian, serta mengevaluasi kinerja dari anak buahnya.
E. Perilaku Kepemimpinan
Pemimpin yang melayani bukan sekedar memperlihatkan karakter dan integritas, serta memiliki kemampuan metode kepemimpinan, tapi dia harus menunjukkan perilaku maupun kebiasaan seorang pemimpin. Dalam buku Ken Blanchard disebutka perilaku seorang pemimpin, yaitu :
1. Pemimpin tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang dipimpin, tapi sungguh – sungguh memiliki kerinduan senantiasa untuk memuaskan Tuhan. Artinya dia hidup dalam perilaku yang sejalan dengan firman Tuhan. Dia memiliki misi untuk senantiasa memuliakan Tuhan dalam setiap apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuatnya.
2. Pemimpin focus pada hal – hal spiritual dibandingkan dengan sekedar kesuksesan duniawi. Baginya kekayaan dan kemakmuran adalah untuk dapat memberi dan beramal lebih banyak. Apapun yang dilakukan bukan untuk mendapat penghargaan, tapi melayani sesamanya. Dan dia lebih mengutamakan hubungan atau relasi yang penuh kasih dan penghargaan, dibandingkan dengan status dan kekuasaan semata.
3. Pemimpin sejati senantiasa mau belajar dan bertumbuh dalam berbagai aspek , baik pengetahuan, kesehatan, keuangan, relasi, dsb. Setiap harinya senantiasa menyelaraskan (recalibrating ) dirinya terhadap komitmen untuk melayani Tuhan dan sesame. Melalui solitude (keheningan), prayer (doa), dan scripture (membaca Firman Tuhan ).
4. Demikian kepemimpinan yang melayani menurut Ken Blanchard yang sangat relevan dengan situasi krisis kepemimpinan yang dialami oleh bangsa Indonesia. Bahkan menurut Danah Zohar, penulis buku Spiritual Intelligence: SQ the Ultimate Intelligence, salah satu tolak ukur kecerdasan spiritual adalah kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Bahkan dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate Luderman, menunjukkan pemimpin – pemimpin yang berhasil membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan biasanya adalah pemimpin yang memiliki SQ yang tinggi. Mereka biasanya adalah orang –orang yang memiliki integritas, terbuka, mampu menerima kritik, rendah hati, mampu memahami spiritualitas yang tinggi, dan selalu mengupayakan yang terbaik bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam sebuah organisasi, tentunya seseorang yang hendak menjadi pemimpin selayaknya mengetahui kemampuan dan potensi dirinya demi untuk eksis dan berkembangnya organisasi yang dipimpin.
Dalam memimpin sebuah organisasi diperlukan kemampuan untuk dapat mengatur dan mempengaruhi orang lain agar dapat berfikir untuk kemajuan organiasi tersebut. Tentunya kemampuan ini ada yang lahir secara alami dalam diri seseorang maupun melalui pengembangan dari teori-teori tentang kepemimpinan.
Kemampuan dalam memimpin organisasi tentunya diperlukan karakter kepemimpinan, metode kepemimpinan dan perilaku kepemimpinan agar nantinya dapat dterima dengan baik oleh semua pihak.
B. Saran
Ketika hendak menjadi pemimpin dalam sebuah organisasi tentunya diharapkan seorang pemimpin yang dapat mempunyai jiwa kepemimpinan serta mampu mempengaruhi setiap orang dalam organisasi demi untuk kemajuan dan kebaikan organisasi tersebut.

Demikian tulisan tentang Cara Makalah Manajemen Organisasi, semoga bermanfaat untuk kita semua. Dapatkan info menarik lainnya hanya di rianisyahriani01.blogspot.com

Sunday, November 3, 2013

Surat Proposal Permohonan Bantuan Dana Pembangunan Masjid


PANITIA PEMBANGUNAN
MASJID “NURUL AKBAR” PAKKABBA
DESA PAKKABBA KEC. GALESONG UTARA KABUPATEN TAKALAR
Sekretariat : Jl. Pendidikan Dusun Pakkabba Desa Pakkabba, Galut, Takalar, Sulsel, 92255,

Nomor           : 12 /PPM-NA-P/DP/2013
Lampiran        : 1 (Satu) Examplar
Perihal            : Proposal Permohonan Bantuan Dana Pembangunan Masjid

Kepada
Yth.                : BAPAK BUPATI TAKALAR

                         Di –
                                 Takalar


       Masjid Nurul Akbar terletak di Dusun Pakkabba Desa Pakkabba pertama kali di renovasi pada tahun 1996 atas swadaya masyarakat Pakkabba dan saat ini kondisi bangunannya mulai mengalami kerusakan pada bagian konstruksi utama terutama pada bagian lantai, dinding dan atap serta tidak maksimal lagi menampung jamaah melakukan ibadah salat berjamaah.
       Olehnya itu kami dari panitia merencanakan akan meronovasi mesjid tersebut agar jamaah yang sudah begitu banyak dapat melaksanakan ibadah dengan nyaman.
       Sehubungan dengan hal di atas, maka dengan ini kami dari Panitia Pembangunan Mesjid ”NURUL AKBAR” Pakkabba Desa Pakkabba Kec. Galesong Utara Kab. Takalar memohon kepada BAPAK BUPATI TAKALAR agar kiranya dapat memberikan bantuan berupa dana demi terlaksananya pembangunan Masjid tersebut.
     Adapun pembangunan/renovasi yang telah dilaksankan tersebut baru mencapai 40% dan masih membutuhkan dana yang sangat besar dalam penyelesaian masjid tersebut. Adapun anggaran biaya dapat di lihat pada lampiran surat ini.
         Demikian permohonan ini disampaikan atas perhatian dan bantuan Bapak kami ucapkan banyak terima kasih, semoga Allah SWT melipatgandakan pahala sumbangannya, Amin.

Pakkabba, 15 Agustus 2013

   Ketua,                                                               Sekretaris,


(ADAM HAMZAH, SE)                                         (H A S R I, S.Kel)
  
Mengetahui :                                                                Mengetahui :
Camat Galesong Utara                                              Kepala Desa Pakkabba,



(Drs. H. HAMZAH, M.AP)                                      (Hj. MARDIAH KE’NANG, SE)
                NIP. : 19670102 199401 1 001

Demikian tulisan tentang Surat Proposal Permohonan Bantuan Dana Pembangunan Masjid, semoga bermanfaat untuk kita semua. Dapatkan info menarik lainnya hanya di rianisyahriani01.blogspot.com

Thursday, October 31, 2013

Cara Blusukan dan Pendampingan Kelompok Simpan Pinjam Perempuan

Proses Pendampingan. Harus dikerjakan diatas dasar pengetahuan lokal, masyarakat lokallah yang memiliki pengetahuan, kearifan dan pengetahuan, dan peran fasilitator adalah untuk mendengar dan belajar dari masyarakat bukan mengajari masyarakat tentang problem dan kebutuhan mereka (Holland&Blackburn)

Kata-kata bijak seorang pemberdaya, kalau kita bukan bagian dari solusi pasti kita bagian dari masalah
Istilah blusukan sangat erat dengan nama jokowi, setelah beliau naik menjadi Gubernur DKI Jakarta, melihat. Mengamati, mendengar, dan bersentuhan langsung dengan masyarakat apa dan bagaimana masyarakat mengalami dan mengatasi permasalahannya, hal ini juga sejalan dengan pemikiran filsafat Paulo Freire, yang memulai sesuatu dengan tindakan, kemudian memikirkan hasil tindakan apa dan bagaimana seharusnya, selanjutnya melakukan tindakan lagi, berpikir dan bertindak lagi terus menerus tiada henti.
Perempuan merupakan kelompok Mayoritas, tetapi dalam realitasnya perempuan adalah kelompok yang paling banyak termarginalkan, baik secara ekonomi, Sosial dan Budaya, maka mengentaskan kemiskinan perempuan masih menjadi sebuah pekerjaan besar, sekaligus pertanyaan besar yang belum terjawab secara tuntas, dari hal tersebut isiniastif untuk melakukan transformasi


dalam mengembangkan daya pikir kritis sekaligus melakukkan aksi transformasi
Program nasional Pemberdayaan masyarakat mandiri perdesaan salah satu kegiatanya adalah pengelolan dana bergulir, guna memberikan dukungan terhadap perempuan guna mengatasi masalahnya dengan memberikan permodalan dalam bentuk kegiatan SPP (Simpan Pinjam Khusus perempuan) tetapi tidak sedikit persoalan SPP, telah membuat para pemangku kebijakan kelimpungan dalam mengambil kebijakan untuk mengatasi tunggakan yang semakin membengkak di masyarakat, bahkan istilah Zero tunggakan menjadi tujuan,


sementara tujuan pembebasan untuk mengeluarkan perempuan dari kelompok marginal terlupakan.
Retorika pembelaan pendampingan akibat dari kesalahan sudut pandang, yang lebih menyudutkan lagi kelompok-kelompok perempuan, tampa melihat apa masalah yang di hadapi,tidak akan mungkin persoalan dapat terungkap ke permukaan, jika hanya di nilai dari luar berdasarkan angka-angka, tampa melihat factor, sistem dan struktur yang berlaku di masyarakat.
Fakta-fakta yang ada bahwa masyarakat belum mampu mengorganisasikan dirinya dengan baik untuk menyelesaikan masalahnya, dan inilah yang menjadi ketidak berdayaan masyarakat yang nyata (Jiem Ife, Community Developmen),
Pendekatan kebawah, bergaul dan blusukan ke masyarakat, adalah merupakan alternative yang dapat di terapkan dalam
mengungkap masalah yang ada, dengan cara ini ide-ide perubahan yang berasal dari masyarakat terbawah dapat diorgansisir
Masalah yang terus terjadi, menunjukkan bahwa masyrakat kita belum mampu mengorganisasi diri dengan baik untuk menyelesaikan masalahnya, inilah ketidak berdayaan masyarakat yang sesungguhnya, dan pengorganissaian inilah yang seharusnya di bentuk dan di perjuangkan
Dengan blusukan, manajemen control dapat di terapkan sedini mungkin, apa yang menjadi kendala dan harapan masyarakat, apakah betul masyarakat hanya membutuhkan pembangunan fisik dan permodalan saja, dan tidak membtuhkan yang lainya, seperti akses pasar dan akses-akses lainnya.

Demikian tulisan tentang Cara Blusukan dan Pendampingan Kelompok Simpan Pinjam Perempuan, semoga bermanfaat untuk kita semua. Dapatkan info menarik lainnya hanya di rianisyahriani01.blogspot.com


Cara Proposal Permohonan Bantuan Dana

MASJID “NURUL AKBAR” PAKKABBA DESA PAKKABBA

1. LATAR BELAKANG
Masjid “Nurul Akbar” Pakkabba di bangun pada pertama kali pada tahun 70-an yang merupakan swadaya masyarakat Dusun Pakkabba, mesjid ini berukuran 8 x 10 m dan dapat menampung jamaah kurang lebih 100 Jemaah, terletak di dusun Pakkabba Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara kabupaten Takalar.
Seiring dengan bertambah waktu dimana masjid telah mengalami perubahan kondisi dan pelapukan sehingga struktur bangunan masjid telah mengalami kerusakan, di samping itu pertumbuhan jumlah penduduk yang terus-menerus mengalami peningkatan menyebabkan masjid tidak dapat lagi menampung jumlah jamaah terutama pada shalat Jumat dan pada bulan Ramadhan yang pada akhirnya jamaah masjid ini kurang nyaman lagi dalam melaksanakan ibadah shalat.
Dengan pertimbangan itu, kemudian pada tanggal 12 Mei 1996 dilakukan rehabilitasi total dengan pembagunan baru Masjid “Nurul Akbar” Pakkabba pada lahan yang sama dengan ukuran yang lebih luas berukuran 17 x 20 m. Pembangunan masjid tersebut merupakan swadaya masyarakat Dusun Pakkabba dengan mengandalkan sumbangan masyarakat Dusun Pakkabba dan sekitarnya serta mengandalkan tenaga masyarakat di dusun sendiri. Alhasil pembangunan masjid dapat diselesaikan dalam jangka waktu 1 tahun dan dapat digunakan oleh masyarakat Dusun Pakkabba dan sekitarnya.
Setelah 17 tahun Masjid “Nurul Akbar” Pakkabba berdiri telah mengalami penurunan kondisi bangunan dan mengalami banyak perubahan. Perubahan yang utama adalah kerusakan pada lantai, dinding dan atap bahkan pada atap telah mengalami kebocorongan sehingga pada musim pelaksanaan ibadah di masjid menjadi terganggu. Di samping itu, masjid tidak maksimal lagi menampung Jamaah pada bulan Ramadhan sehingga memungkinkan untuk melakukan renovasi dan menambah tempat ibadah dengan memanfaatkan lahan yang ada. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa Pembangunan masjid sudah tidak sepenuhnya lagi dapat dilakukan oleh masyarakat Dusun Pakkabba dan sekitarnya sehungan dengan besarnya dana pembangunan yang dibutuhkan dalam pembangunan Masjid “Nurul Akbar” Pakkabba.
Dalam kerangka berpikir seperti itu, Panitia Pembangunan Masjid “Nurul Akbar” Pakkabba Desa Pakkabba Kec. Galesong Utara Kab. Takalar berupaya untuk konsisten melakukan berbagai usaha agar kondisi masjid ini tetap kuat dan terawat dan dapat menampung jamaah di Dusun Pakkabba dan sekitarnya, sehingga para jemaah merasa tenang dan nyaman dalam melaksanakan ibadah shalat, oleh karena itu maka pembangunan/renovasi masjid ini dipandang sebagai upaya yang harus didukung untuk segera direalisasikan.
2. NAMA KEGIATAN
Renovasi Masjid “NURUL AKBAR” Pakkabba
3. JENIS KEGIATAN
Adapun tahapan dalam renovasi Masji ”Nurul Akbar” Pakkabba sebagai berikut :
1. Pekerjaan Persiapan/Pembersihan
2. Pekerjaan Tanah dan Pondasi
3. Pekerjaan Beton dan Dinding
4. Pekerjaan Pintu dan Jendela
5. Pekerjaan Kuda-Kuda dan Atap
6. Pekerjaan Plafond
7. Pekerjaan Lantai
8. Pekerjaan pengecatan semua bagian mesjid.
9. Pekerjaan instlasi listrik
10. Pekerjaan Penggantung/Pengunci Kubah
4. TEMPAT/LOKASI
Masjid ini berlokasi di Dusun Pakkabba Desa Pakkabba Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar yang diberi nama “NURUL AKBAR” Pakkabba.
5. PELAKSANAAN
Mengingat keterbatasan Dana Panitia maka Panitia merencanakan Pelaksanaan Renovasi Masjid ini direncanakan berlangsung beberapa tahapan dan palaksanaannya di mulai bulan September 2011 s/d September 2013. Adapun tahapan pekerjaan sebagai berikut :
1. Tahap I : Persiapan, pekerjaan tanah dan pondasi, pekerjaan beton dan dinding
2. Tahap II : Pekerjaan Kuda-Kuda dan Atap, Plofond dan Instalasi Listrik
3. Tahap III : Pekerjaan Penimbunan dan Lantai Masjid
4. Tahap IV : Pekerjaan Fhinsing
6. SUMBER DANA
Dana pembagunan masjid ini diharapkan berasal dari:
1. Partisipasi masyarakat Dusun Pakkabba
2. Partisipasi masyarakat di luar Dusun Pakkabba
3. Pemerintah Kabupaten Takalar/Provinsi Sul-Sel
4. Perusahaan
5. Sumber lain yang tidak mengikat.

7. BESARNYA DANA
Adapun jumlah dana yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan renovasi masjid sebagai berikut sebesar Rp. 401.979.000,- dengan rincian sebagaimana terlampir
8. KEPANITIAAN
Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan ini maka ditetapkan panitia Pembangunan Masjid ”NURUL AKBAR” Pakkabba sebagaimana terlampir.

9. PENUTUP
Demikian Proposal ini dibuat sebagai bahan pertimbangan bagi para dermawan yang akan memberikan bantuannya demi terlaksananya rencana Pembangunan/Renovasi Masjid Nurul Akbar Pakkabba, Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Rahman dan Rahimnya kepada kita semua, Amin...........................
Terima Kasih.
Wassalam,

Panitia Pembangunan


SUSUNAN PANITIA PEMBANGUNAN
MASJID”NURUL AKBAR” PAKKABBA

1. Penasehat : 1. Kepala Desa Pakkabba
2. Imam Dusun Pakkabba
2. Ketua : Adam Hamzah, SE
3. Sekretaris : Hasri, S.Kel
4. Bendahara : Syahriar Salle

5. Seksi-Seksi
1. Seksi Hubungan Masyarakat
1. H. Abd. Kahar Rukka
2. Irham, S.Sos Dg. Naba
3. Zaenal Dg. Tika
4. H. Nasir B. Sitaba, S.KM, M.Kes
5. Nurdin Dg. Gau
6. Muh. Arwin
2. Seksi Dana :
1. Abd. Latif Dg. Liwang
 2. Barlan Dg. Nyampa
3. Arni
4. Irmawati, Amd. Keb
5. Syahriani
6. Nurbaya
7. Pattola Dg. Ngitung
8. Jufri Dg. Sila
9. Syahrir Dg. Sibali
10. Safri
11. Bahtiar
12. Muh. Wildan
3. Seksi Pembangunan :
1. Baras Dg. Rurung
2. Zainuddin Dg. Gassing
3. Sampara Dg. Tola
4. H. Umar Dg. Pasang
4. Seksi Perlengkapan :
1. Husaini Dg. Seni
2. Kasang Dg. Naba
3. Masseseang Dg. Ngunjung
4. Sahamad Dg. Pasang

5. Seksi Konsumsi :
1. Hj. Sadaria Dg. Ngai
2. Monalisa, S.Kep Dg. Kanang
3. Hj. Rabati Dg. Sompa
4. Hj. Saharia Dg. Ngasih
5. Kamaria Dg. Tayu
6. Sadaria Dg. Saming



Panitia Pembangunan Masjid Nurul Akbar Pakkabba
Ketua, Sekretaris,

(ADAM HAMZAH, SE)                                                     (H A S R I, S.Kel)
Mengetahui :
Kepala Desa Pakkabba,


(Hj. MARDIAH KE’NANG, SE)

Demikian tulisan tentang Cara Proposal Permohonan Bantuan Dana, semoga bermanfaat untuk kita semua. Dapatkan info menarik lainnya hanya di rianisyahriani01.blogspot.com